Page 1 of 2

Satu Produk, Dua Harga—Bisa Laku Mahal Karena Market Percaya Cerita Lo!

Dua orang, sama-sama 35 tahun, tinggal di Jaksel, gaji Rp15 juta.

- Satu beli skincare lokal Rp400rb
- Satu beli skincare Korea Rp1,5jt

Kenapa beda?

Karena belief-nya beda.

- Yang satu: “asal gak jerawatan, cukup.”
- Yang lain: “kulit glowing tuh investasi.”
Ini contoh nyata gimana belief membentuk perceived value yang beda, meski produknya mirip, harga dan keputusan belinya jauh berbeda.
https://storage.tally.so/03d813d3-e376-469a-ba5c-42bf7f7aa146/shamblen-studios-xwM61TPMlYk-unsplash-1-.jpg

Apa yang bakal lo dapet?

Cara nentuin pricing pake "Belief" Lo bakal tau gimana brand kecil bisa jual harga premium ke segment yang sama—karena mereka ngerti pola pikir dan belief marketnya
Template Checklist Pricing & Offer yang Nyambung ke Cerita Customer Bisa langsung praktik—bukan teori doang, ada step by step action plan-nya.
Framework Segmentasi Market Berbasis Belief (BUKAN Demografi Biasa)
Contoh real: skincare lokal vs import, kenapa yang satu laku mahal padahal target marketnya sama.
Cara Baca Data Perilaku Customer Buat Nge-Shift Pricing—Tanpa Perang Diskon Studi kasus campaign yang growth-nya naik gara-gara ngubah strategi pricing pakai insight dari data

Mau playbook-nya GRATIS?

Cukup isi form di bawah, lo bakal dapet akses ke Playbook ini
“Biar harga lo nggak sekadar angka, tapi dipercaya market sebagai solusi. Dapetin sekarang, biar nggak nyesel cuma perang diskon doang!”

Nama

Email

No WhatsApp

Profesi